Biografi Mustafa Kemal Ataturk

 

Informasi mengenai biografi ini dilansir dari BBC dan buku Pemikiran Politik Islam karya Dr Muhammad Iqbal. Mustafa Kemal Ataturk adalah tokoh Turki yang dikenal sebagai pelopor sekulerisasi di dunia Islam. Ia dilahirkan di Salonika (saat ini Yunani) pada 1881. Tepatnya saat berada di bawah kekuasaan Kekaisaran Ottoman.

Ataturk dibesarkan dalam keluarga yang dekat dengan nilai-nilai religius. Ayahnya sempat menjadi seorang pejabat dan kemudian berprofesi sebagai pedagang kayu.

Menginjak remaja, usia ke-12, Ataturk menempuh pendidikan militer dan berlanjut belajar di akademi militer di Istanbul hingga lulus pada tahun 1905. Pendidikan militernya tersebut yang membentuk pemikiran Ataturk dewasa saat itu.

Semasa hidupnya, ia menjabat sebagai Komandan Gerakan Nasional Turki saat perang dunia I. Sebab itu, ia berhasil merebut kemerdekaan Turki dan menjatuhkan pemerintahan Ottoman.

Usai mendapatkan kemerdekaan tersebut, ia memimpin pemerintahan Turki. Kebijakan dari Kekaisaran Islam Ottoman diubah menjadi lebih moderat, misalnya mengizinkan wanita masuk dalam parlemen hingga membuka sekolah campur pria dan wanita.

Nama Ataturk yang disematkan padanya merupakan gelar pemberian negara pada tahun 1934. Nama tersebut mengandung arti Bapak Orang Turki. Pada 10 November 1938, Ataturk menghembuskan napas terakhirnya di usia yang ke-57 tahun karena penyakit ginjal.

Kontroversi Islam Mustafa Kemal Ataturk

Meski dikenal sebagai Bapak Turki yang berjasa melahirkan Turki sebagai negara modern, Ataturk juga mendapat kecaman sebagai pelopor sekulerisme di dunia Islam.

Salah satu kontroversi yang terkenal darinya adalah pengubahan Hagia Sophia menjadi sebuah museum. Mulanya, setelah Konstatinopel jatuh, Hagia Sophia difungsikan sebagai masjid oleh Kekaisaran Ottoman.

Namun, Kekaisaran Ottoman tumbang pada Perang Dunia I. Hal ini membuat Ataturk sebagai pemerintah sekuler baru Turki mengambil alih kekuasaan. Ia memutuskan mengubah bangunan itu menjadi museum dan membukanya untuk turis.

Ketua DPW PKS DKI Jakarta Khoirudin juga menyebutkan kontroversi lain yang dilakukan oleh tokoh sekurel Turki tersebut. Beberapa di antaranya seperti mengganti bahasa dalam adzan hingga larangan memakai jilbab.

"Sangat diktator, dia juga membuat kebijakan mengubah Masjid Hagia Sofia menjadi museum, mengganti adzan berbahasa Arab dengan bahasa lokal, melarang jilbab dipakai di sekolah, kantor-kantor yang bersifat kepemerintahan," kata Khorudin, dikutip dari detikNews, Minggu (18/10/2021).

Sebelumnya, sejumlah pihak sudah menolak wacana penggantian nama jalan di Menteng dengan nama Ataturk. Salah satunya adalah Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anwar Abbas. Ia menyebut Ataturk sebagai tokoh yang menyesatkan.

"Kalau pemerintah tetap akan mengabadikan namanya menjadi salah satu nama jalan di Ibu Kota Jakarta, hal itu jelas merupakan sebuah tindakan yang tidak baik dan tidak arif, serta jelas-jelas akan menyakiti dan mengundang keresahan di kalangan umat Islam, yang itu jelas tidak kita harapkan," pungkasnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejarah Bahasa Indonesia Singkat yang Wajib Diketahui

PERANG DUNIA II DI EROPA